Penjelasan hadis
Berkenan dengan hal ini, Mu'adz pernah berkata, "Duduklah sejenak bersama kami di sini untuk menambah keimanan".
Sedangkan Ibnu Mas'ud berkata, "Keyakinan adalah Iman yang sempurna".
Artinya, manusia tidak akan sampai pada tingkat iman kepada Alloh sehingga dia meninggalkan apa yang terbetik di dalam hati kecilnya yang khawatirkan akan menjerumuskan dirinya ke dalam dosa. Dan seorang muslim tak akan pernah sampai pada puncak rasa takut kepada Tuhan nya yang maha suci lagi maha tinggi, sehingga dia menghindari segala hal buruk yang terbelik dalam hatinya. Serta tidak memberikan pintu baginya untuk bersemayam di dalam dirinya.
Dengan demikian itu, Abdullah bin umar meriwayatkan sebuah atsar yang menyeru kepada penggabungan kemauan untuk benar-benar yakin kepada Alloh. Memfokuskan pikiran hanya untuk berbuat taat kepada nya, beribadah kepadaNya dengan sebaik-baiknya sehingga dia mendapatkan derajat orang orang yang mukhlis atau yang tulus ikhlas, yang mengenai diri mereka ini. Alloh telah berfirman dalam surat al hajj ayat ayat 34 samapai 35.
Yang artinya "Dan sampai kan berita gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh kepada Alloh, yaitu orang orang yang apabila disebutkan nama Alloh, maka bergetar hati mereka, orang orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka".
Juga firman nya dalam surat Al anfal ayat 2, yang artinya" Sesungguhnya orang orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebutkan nama Alloh, maka bergetar hati mereka. Dan apabila dibacakan ayat-ayat nya, maka bertambah lah iman mereka karena nya, dan kepada Tuhan mereka bertawakal ".
Dan yang dimaksud dengan hakikat takwa adalah seperti yang dikatakan oleh Al Karmani, " Yakni iman, karena yang dimaksud dengan takwa adalah memelihara diri dari syirik. Dan dalam hadis tersebut terdapat pengertian bahwa sebagian orang mukmin ada yang sampai pada substansial iman dan sebagian yang lain tidak sampai sesuatu yang sudah tetap di dalam hati".
Yang demikian ini hadia itu hikmah yang sangat berharga yang muncul dari seorang yang oleh Rasulullah pernah menyebutkan, "Sesungguhnya Abdullah Ibnu Umar adalah adalah orang yang shaleh". Dia orang yang banyak bersedekah, bahkan di suatu majelis Ibnu Umar pernah bersedekah dengan tiga puluh ribu dirham, dan jarang sekali orang seperti dengannya dalam mengikuti jejak Rasulullah dan penolakan nya terhadap hal hal yang bersifat duniawi, dan ambisi mendapatkan kedudukan. Ibnu Umar hidup setelah Rasulullah setelah selama 60 tahun. Dia pernah berkata "Aku tak pernah menyesali sesuatu yang bersifat dunia yang berlalu dariku melainkan aku tidak ikut berperang bersama Ali melawan kelompok yang zhalim".
Ibnu Umar meninggal dunia di Mekkah setelah menunaikan haji pada tahun 73 Hijrah. Tiga tahun setelah terbunuhnya Ibnu Zubair, dan dimakamkan di Muhshib, demikian yang dikemukakan Al-Karmani.
Oleh karena itu, hendaklah para penonton semua berniat hanya untuk Alloh dan mengusir gangguan syaitan yang biasa bersembunyi serta menjauhkan diri dari memikirkan hal-hal yang dimurkai Alloh. Selain itu, hendaknya anda banyak bertaubat dan menyesali hal-hal yang melalaikan , tidak merasa cukup atas amal kebaikan meskipun anda telah banyak melakukan nya. Hendaklah anda mencintai dan membenci karena Alloh subhaanahu wataala, Juga menghiasi diri dengan sifat sifat nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Yang oleh Alloh mereka disebut kan dalam firman nya surat al anbiya' ayat 90, yang artinya "Dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan rasa cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada kami".
Dan dia juga mengikuti jejak orang orang yang shalih yang oleh Alloh pernah disebabkan dalam firman nya surat ali Imran ayat 173,
yang artinya, " Yaitu orang orang yang mentaati Alloh dan Rasul-Nya yang kepada mereka ada orang orang yang mengatakan, "sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takut lah kalian kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka, mereka menjawab " Cukuplah Alloh menjadi penolong kami dan Alloh adalah sebaik-baiknya pelindung ".
Imam Nawawi mengemukakan, " Pendapat ulama salaf menyatakan bahwa iman itu mencakup ucapan, perbuatan dan niat, dan ia dapat bertambah dan berkurang. Artinya iman itu akan bertambah dengan bertambah nya semua itu dan berkurang dengan berkurang nya semua itu".
Sedangkan Ibnu Battal berkata, "Pendapat seluruh Ahlussunnah dan jama'ah terdahulu berkata bahwa iman itu berupa ucapan dan perbuatan, yang dapat bertambah dan berkurang. Artinya, yang menjadikan seseorang hamba mendapatkan pujian dan sanjungan dari orang orang mukmin adalah memenuhi hal yaitu, pembenaran, pengakuan, dan penerapan. Dan tidak diragukan lagi, jika ia hanya mengakui dan mengerjakan tetapi tidak mau mengakui secara lisan, maka ia tidak disebut sebagai seorang yang beriman.
Berkenan dengan hal tersebut Imam Nawawi mengomentari, Saya berkata yang dimaksudkan adalah kesempurnaan iman, dan bukan pokok keimanan itu sendiri. Karena jika demikian, maka setiap orang yang meninggal suatu kewajiban sekali saja sudah tidak dianggap sebagai seorang mukminmukmin. Dan itu sesuatu yang muskil atau susah. Karena sudah menjadi ketetapan bahwa barangsiapa yang memberikan pengakuan iman secara lisan, maka Rasulullah menyebutkan sebagai orang mukmin.
Ulama salaf menafsirkan iman sebagai pembenaran dengan hati. Pengakuan secara lisan, dan pendalaman terhadap Rukun. Demikian yang dikemukakan oleh Al Karmani.
Berkenan dengan masalah iman, Imam Bukhari telah menyebutkan beberapa firman Alloh yang menyangkut masalah itu, diantaranya:
1. Surat Al fath ayat 4, yang artinya" Dia telah menurunkan kemenangan dihati orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka yang sudah ada"
2. Surat al Kahfi ayat 13, yang artinya "sesungguhnya mereka itu adalah pemuda pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk".
3. Surat Maryam ayat 76, yang artinya, " Dan Alloh akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk ",
4.Surat muhammadmuhammad ayat 17, yang artinya, " Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Alloh menambahkan petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka balasan ketakwaan nya".
5. Surat mudatsisir ayat 31, yang artinya "dan supaya orang orang yang beriman bertambah imannya".
6. Dan dalam surat at taubah ayat 124, yang artinya, " Dan apabila diturunkan suatu surat maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, "siapakah diantara kalian yang bertambah imannya dengan turunnya surat ini? " Adapun orang orang yang beriman, maka surat ini akan menambah imannya, sedang mereka merasa gembira "
Surat Al ahzab ayat 22, artinya " Dan yang demikian itu tidaklah menambah mereka kecuali iman dan ketundukan".
Imam Bukhari sajikan ayat ayat terebut dengan maksud untuk menjelaskan derajat orang orang mukmin sesuai dengan tambahan keyakinan dan kepercayaan mereka kepada Alloh, dan tergantung dengan sandaran diri mereka kepada Alloh, dan besarnya amal shalih mereka, sebagaimana yang di firman kan dalam surat Al-Baqarah ayat 260 yang artinya "Aku meyakininya tetapi agar hatiku tetap dengan imanku".
Al Karmani mengemukakan, "yang demikian itu merupakan dalil kongkrit yang menunjukkan adanya penambahan pada keimanan, artinya, jika Ainul yakin bergabung dengan ilmu yakin, maka pada saat itu tidak diragukan lagi bahwa iman akan lebih kuat.
Dan hendaklah masyarakat modern memahami bahwa iman adalah hati nurani yang mengajak mereka untuk menghiasi diri dengan kesempurnaan dan jalan yang lurus, serta tidak tercelakakan orang lain. Karena, diantara mereka ada yang berkeyakinan bahwa Mu'amala yang baik sudah cukup untuk mendapatkan keridhaan Alloh, lalu mereka mengabaikan shalat dan puasa dengan alasan mereka telah bebas dari kewajiban tersebut, padahal untuk mensucikan mereka itu jelas membutuhkan amal shalih.
Dan demikian, dapat dikatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat berarti imannya berkurang, demikian juga halnya orang yang makan atau minum pada siang hari di bulan Ramadhan, dan demikian seterusnya. Melakukan berbagai kemaksiatan merupakan dalil yang menunjukkan kefasikan dan kelemahan iman.
Imam An Nawawi telah menafsirkan ungkapan Mu'adz, "Duduklah sejenak bersama kami disini untuk menambah keimanan". Maksudnya, untuk membicarakan kebaikan dan berbagai hukum akhirat serta bermacam-macam urusan agama. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk keimanan. Al Karmani menyebutkan, artinya, duduklah sehingga kita mengingat sisi sisi dalalah yang menunjukkan apa yang harus diimani.