Hadist-hadist pilihan dari kitab Shahih Bukhari

Keutamaan Ahli Hadist

 Saya senantaisa mengharapkan pertolongan dan kejelasan dari Allah, Tuhan yang Maha agung. Kepadanya saya memohon taufik dan ridha-Nya. Semoga Dia menjadikan amal perbualanku ini benar-benar tulus karena-Nya serta menambahkan ilmu-Nya kepada kita semua. Dan mudah-mudahan Dia selalu membantu kita untuk menaati-Nya dan menyebarluaskan hadits Rasul-Nya, Muhammad SAW. Dan itulah yang menjadi tujuan utama saya, dan Allah SWT yang menjadi sandaran saya. 


Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, ia bercerita, Rasulullah SAW bersabda, 


‎‫نَضْرَ اللَّهُ امْرَءًا سَمِعَ مَقَالَتِي فَحَفِظَهَا وَوَعَاهَا وَأَدَاهَ ا فَرُبَّ حَامِلِ‬‎ ‎‫فِقْهِ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ. (رواه الشافعي والبيهقي)‬‎


“Semoga Allah menjudikan ceria orang yang mendengar ucapanku, lalu ia menghafal, memahami, dan menerapkannya. Berapa banyak orang yang membawa fiqih menyampaikan kepada orang yang lebih mengerti darinya.” (HR. Asy-Syafi'i dan Al-Baihaqi) 


Artinya, semoga Allah mengkhususkan keceriaan dan kebahagiaan hanya untuknya, karena ia telah berusaha mendalami ilmu, mengaktualisasikan sunah. Sehingga Allah SWT pun mengabulkan doa Rasul-Nya itu. Orang yang menghafal apa yang didengarnya dan kemudian menyampaikannya, sama seperti yang ia dengar tanpa melakukan perubahan sedikit pun. 


Dari Ibnu Abbas, ia bercerita, Rasulullah SAW juga pernah bersabda, 


‎‫اللَّهُمَّ ارْحَمْ خُلَفَابِي قُلْنَا يَا رَسُوْلُ اللَّهِ وَمَنْ خُلَفَاؤُك َ قَالَ الَّذِينَ‬‎ ‎‫يَرْوُوْنَ أَحَادِيثِي وَيُعَلِّمُوْنَهَا لِلنَّاسِ. (رواه الطبراني)‬‎


“Ya Allah, berikanlah rahmat kepada para khalifahku.” Kemudian kami bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah yang engkau maksud dengan para khalifahmu itu? "Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang meriwayatkan hadits-haditsku dan mengajarkannya kepada umat manusia.” (HR. AthThabarani) 


Tidak diragukan lagi bahwa mengajarkan dan menyampaikan sunah kepada kaum muslimin itu merupakan salah satu tugas para Nabi. Oleh karena itu, barangsiapa yang mau melaksanakan tugas tersebut, berarti ia telah menjadi khalifah (wakil) bagi mereka semua. Bukan sifat para Nabi SAW meninggalkan musuh-musuh mereka dan tidak menasihati mereka. Oleh karena itu, tidak sepatutnya bagi para penuntut hadits dan penukil sunah hanya memberikan hadits dan sunah itu kepada orang-orang dekatnya saja dan tidak kepada musuhnya. Seorang ahli hadits berkewajiban untuk berkeinginan dan berkemauan keras menyebarluaskan hadits tersebut. Bahkan Rasulullah SAW sendiri pernah menyuruh menyebarkan apa yang ada pada beliau melalui sabdanya, 


‎‫بَلِّغُوْا عَنِّي وَلَوْ آيَةً. (رواه البخاري)‬‎


 “Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat.” (HR. Al Bukhari) 


Al-Madzhari Mengemukakan, “Artinya, sampaikanlah hadits-hadits dariku meskipun hanya sedikit” 


Sedangkan Al-Baidhawi  mengatakan, “Rasulullah menggunakan kalimat, "meski hanya satu ayat' dan bukan 'satu hadits, karena secara tersirat perintah menyampaikan hadits tentu lebih diutamakan lagi, sebab penyebaran ayat-ayat Al-Quran itu sudah ditanggung oleh Allah Tabaraka wa Tagala sendiri. Bahkan pemeliharaan dan penjagaan dari kemusnahan serta penyimpangannya pun sudah dijamin oleh-Nya. Dan inilah yang diharapkan oleh penukil hadits-hadits ini agar ada orang yang mau menerbitkan buku ini, serta menyebarluaskannya ke seluruh belahan bumi dengan mengharapkan keridhaan Allah, sebagai bentuk pengabdian kepada agama dan kaum muslimin serta wujud cinta kepada Rasulullah.

Imam Malik pernah berkata, “Pernah sampai kepadaku berita bahwa pada Hari Kiamat kelak para ulama akan dimintai pertanggung jawaban mengenai penyampaian ilmu yang pernah mereka sampaikan, sebagaimana para Nabi juga akan dimintai pertanggungan jawab mengenai hal tersebut” Sedangkan Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Aku tidak mengetahui ilmu yang lebih baik dari ilmu hadits bagi orang yang menghendaki keridhaan Allah. Sesungguhnya umat manusia ini masih terus membutuhkannya, bahkan dalam hal makan dan minum mereka. Yang demikian itu lebih baik dari amalan sunah baik shalat maupun puasa, karena mempelajari ilmu hadits merupakan fardhu kifayah. 


Dan dalam hadits Usamah bin Zaid, dari Rasulullah, beliau bersabda, 


‎‫يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عَدُوْلُهُ يُنْفُوْنَ عَنْهُ ت َحْرِيفَ الْغَالِينَ‬‎ ‎‫وَانْتِحَالِ الْمُبْطِلِينَ وَتَأْوِيلِ الْجَاهِلِينَ. (رواه جمع من الصحابة)‬‎


“Ilmu hadits ini dibawa oleh orang-orang yang adil dari generasi ke generasi, mereka memberantas penyimpangan orang yang berlebih lebihan, meluruskan jalannya pelaku kebatilan dan dari penafsiran orang-orang bodoh.” (Diriwayatkan sekumpulan sahabat) 


Di dalam bukunya, Imam An-Nawawi mengatakan, “Yang demikian itu merupakan pemberitahuan dari Rasulullah tentang dipeliharanya ilmu hadits ini dari berbagai penyimpangan sehingga ilmu itu tidak akan pernah sirna. Demikian itulah. Segala puji hanya bagi Allah. Sedikit pengetahuan mengenai ilmu hadits yang dimiliki oleh beberapa orang fasik tidak menafikan bahwa ilmu hadits ini dipegang oleh orang orang yang adil, bukan berarti orang lain tidak mengerti sama sekali ilmu hadits. Dan sebenarnya, ilmu hadits yang dimiliki oleh orang-orang fasik itu pada hakikatnya bukan ilmu, karena mereka tidak mengamalkan ilmu tersebut. Demikian itulah yang diisyaratkan oleh Imam Asy-Syafi'i  dalam ungkapannya, “Tidak ada arti ilmu yang tidak disertai dengan ketakwaan, dan tidak ada pula akal pikiran tanpa disertai dengan etika.” 


Ibnu Al-Qathan pernah berkata, “Di dunia ini tidak ada pelaku bid'ah melainkan membenci ahli hadits.” 


Di antara kemuliaan ahli hadits adalah apa yang diriwayatkan Abdullah bin Mas'ud, ia bercerita, Rasulullah pernah bersabda, 


“Sesungguhnya sebaik-baik manusia terhadap diriku pada Hari Kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadaku." 


Di dalam kitabnya, Shahih Ibnu Hibban, Ibnu Hibban mengatakan, “Di dalam hadits tersebut terdapat penjelasan yang benar dan gamblang, karena memang di antara umat ini tidak ada orang yang bershalawat lebih banyak melebihi para ahli hadits” 


Abu Yaman bin Asakir mengemukan, “Allah telah menyempurnakan nikmat-Nya atas mereka dengan dianugerahkannya fadhilah yang besar tersebut. Mereka itulah orang yang paling baik kepada Nabi mereka, Muhammad. Karena, mereka senantiasa bershalawat setiap saat, baik ketika sedang di dalam majelis, pada saat sedang bermudzakarah, atau pada saat menyampaikan hadits, atau ketika sedang belajar. Insya Allah mereka inilah kelompok yang selamat. 


Mudah-mudahan Allah menjadikan kita termasuk dari golongan mereka serta menyatukan kita semua dalam satu ikatan dengan mereka. Dan semoga Dia merestui kita untuk menerima bimbingan dan petunjuk-Nya, menganugerahkan kebaikan dan kebahagiaan. 


Semoga Dia mau menerima amal perbuatan saya ini dengan sepenuhnya, memberikan keridhaan kepada Imam Al-Bukhari dan Syaikh AlQasthalani, karena keduanya merupakan narasumber dari buku saya ini. Mahasuci Allah, Tuhanmu yang Mahamulia atas apa yang orang-orang kafir dan musyrik katakan. Semoga keselamatan dan kesejahteraan senantiasa terlimpahkan kepada para rasul dan nabi. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. 


Berkenaan dengan hal tersebut, Allah telah berfirman, 


“Hai sekalian manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Tuhan kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat Allah itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus 57-58)