Penjelasan Hadist
Nabi shallallahu alahi wasallam hendak membimbing orang muslim yang sempurna untuk ikut melakukan perbaikan makan, minum, pakaian, pernikahan dan lainnya. Sehingga dia benar benar memperoleh yang halal dan menjauhi segala bentuk syubhat (samar samar) sehingga dengan demikian itu ikut memelihara dan menjaga agama dan kehormatan nya.
Imam An-Nawawi mengatakan, "Artinya mencakup tiga bagian, yakni halal yang sudah benar benar jelas, misal buah buahan, ucapan, berjalan dan lain-lain. Juga haram sudah benar benar jelas, misalnya minum khamr, bangkai, darah, zina, dusta dan lainnya. Serta perkara yang mutasyabihat yaitu yang samar samar dan tidak jelas halal haram nya, yang bisa mengetahui nya adalah ulama".
Orang orang yang wara' senantiasa menghindari segala perkara yang samar samar agar selamat. Dan nabi shallallahu alahi wasallam sendiri telah memberikan contoh, dimana beliau menyebutkan bahwa setiap raja itu mempunyai tanah larangan yang dijaga agar tidak dimasuki orang lain, dan barangsiapa memasuki nya maka ia akan mendapatkan hukuman.
Sedangkan orang yang berhati-hati dan menjaga diri tidak akan mendekati nya apalagi memasuki nya, karena takut terjerumus ke dalam nya. Dan Alloh pun mempunyai larangan, yaitu seluruh kemaksiatan, yang barangsiapa mengerjakan sedikit darinya, maka ia berhak mendapatkan hukuman, dan barangsiapa mendekati perkara yang samar samar maka dikhawatirkan ia akan jatuh ke dalam nya. Demikian yang dikemukakan al karmani.
Selanjutnya, Rasulullah mengajak umat untuk memperbaiki niat dan membersihkan batin. Yang darinya berasal pengetahuan dan pikiran, darinya pula roh termotivasi dan muncul kekuatan, yaitu hati. Hati merupakan penguasa tubuh sedangkan anggota tubuh lainnya adalah rakyat. Hati itulah yang menjadi poros seluruh bagian yang dalam tubuh manusia.
Karena, hati merupakan pemimpin badan. Dengan baiknya pemimpin, maka baiklah seluruh rakyatnya, dan dengan rusaknya pemimpin, maka rusaklah seluruh rakyatnya.
Sesuatu yang paling mula adalah hati. karena hatilah yang dapat mengenal Allah ta'ala sedangkan anggota tubuh lainnya merupakan pembantunya.
Para ularna telah sepakat menetapkan agungnya hadits ini, dan bahwa ia merupakan salah satu dari empat hadits yang menjadi poros Islam yang tergambarkan dalam syair berikut ini,
“Menurut kami pilar agama adalah kalimat-kalimat yang menjadi sandaran, yaitu sabda sang makhluk terbaik.
Takutkah akan syubhat, zuhud, dan tinggalkanlah apa yang udak bermanfaat bagimu dan kerjakanlah yang lebih baik.”