Penjelasan Hadits
Rasulullah memberitahukan tentang kriteria seorang mukmin yang sempurna yang memelihara iman di dalam hatinya. Di mana ia mewujudkan keakraban, menanamkan kecintaan, dan keceriaan kepada saudara-saudaranya yang seiman, kaum muslimin. Allah berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (Al-Hujurat: 10)
Yang termasuk bagian dari iman lainnya adalah membenci untuk saudaranya apa yang dibenci untuk dirinya sendiri Cinta berarti mencurahkan kebaikan dan manfaat serta kecenderungan fitrah kepada orang yang dikehendaki. Imam An-Nawawi menyebutkan, “Cinta itu pada dasarnya berarti kecenderungan dan kecocokan kepada apa yang dijadikan objek cinta. Kemudian kecenderungan itu melahirkan kenikmatan pada beberapa indera manusia.”
Sedangkan At-Taimi mengungkapkan, “Rasulullah telah menunjukkan anda kepada pengetahuan iman dari diri anda sendiri. Coba perhatikan, jika kamu memilih untuk saudaramu apa menjadi pilihanmu juga, maka dengan demikian itu anda telah menyifati diri dengan sifat iman. Dan jika anda membedakan diri anda dengan dirinya dalam suatu kebaikan, maka anda tidak berada dalam keimanan yang sesungguhnya.”
Sabda Rasulullah, “apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri,” yaitu berupa kebaikan. Dan kebaikan itu merupakan kata komprehensi yang mencakup berbagai ketaatan dan hal-hal halal yang bersifat duniawiyah dan ukhrawiyah. Dan tidak termasuk di dalamnya segala bentuk larangan, karena kebaikan tidak mencakupnya.
Artinya, hendaklah seseorang sangat mengharapkan tercapainya sesuatu oleh saudaranya seperti apa yang telah dicapainya, baik dalam hal-hal yang bersifat materiil maupun immateril. Di dalam hadits di atas juga terdapat perintah untuk bertawadhu' (rendah hati), sehingga ia tidak ingin apa yang dimilikinya lebih baik dari yang dimiliki orang lain. Dan hal itu mengharuskan adanya persamaan antar-sesama.
Dan hal itu disimpulkan dari firman Allah berikut ini,
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan yang baik itu dalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Qashash: 83)
Dan hal itu tidak akan terwujud melainkan dengan cara meninggal-kan dengki, curang, iri hati, karena semuanya itu termasuk sifat tercela.