Hadist-hadist pilihan dari kitab Shahih Bukhari

Hadist cinta Rasulullah


Penjelasan Hadist
 
Maksudnya iman tersebut adalah iman yang sempurna. Kedua orangtua yang dimaksud kan adalah ibu dan bapak. Berkenan dengan hal ini Alloh berfirman dalam surat Al Azhar ayat 6,

 " Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari pada mereka sendiri".

Maksudnya, orang-orang mukmin itu mencintai nabi mereka lebih daripada mencintai diri mereka sendiri dalam segala urusan. 

Hakikat iman itu tidak akan sempurna dan tidak akan tercapai kecuali dengan merealisasikan penghormatan terhadap Rasullulah. Dan meninggikan posisi beliau atas setiap orang tua dan anak. 

Dan orang yang tidak menyakini hal tersebut, maka ia tidak disebut mukmin. 
Rasullulah menjelaskan derajat orang mukmin tergantung pada kecintaan kepada beliau. 

Hadist tersebut berarti, tidak ada iman yang sempurna yang memancarkan cahayanya di dalam hati seorang muslim, kecuali jika ia meyakini bahwa Rasullulah lebih mulia baginya daripada keluarga dan harta bendanya, serta segala sesuatu. 

Karena Rasullulah merupakan rahmat sekaligus nikmat, sehingga hal itu mengharukan kecintaan kepada beliau, dan hal itu pula yang mempertegas bahwa kecintaan itu harus lebih besar daripada orangtua, anak, keluarga, harta benda, serta alam semesta secara keseluruhan. 

Mengapa demikian? Karena, beliau mengajak kepada kebenaran dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju alam yang terang benderang. Selain itu, beliau juga menjelaskan kepada jalan jalan hidayah serta menerangi jalan mereka menuju hikmah dan kebenaran, supaya mereka menempuh jalan yang mengantarkan mereka kepada kebahagiaan dan kesejahteraan. 

Al Qadhi Iyahh mengatakan, "di antara cinta Rasulullah adalah menghidupkan sunnah beliau, memelihara syari'atnya, berharap bertemu dengan beliau, sehingga ia tidak segan segan untuk mencurahkan harta dan jiwanya untuk kepentingan beliau. 

Sesungguhnya hakikat iman tidak akan sempurna kecuali dengan hal tersebut. Dan iman itu tidak terealisasi kecuali dengan merealisasikan penghormatan dan pengangkatan derajat Rasulullah dan kedudukan beliau di atas orangtua, anak orang baik. 

Dan orang yang tidak menyakini hal tersebut itu, maka tidak dapat disebut mukmin, hanya Alloh yang mengetahui".

Sedangkan Imam an Nawawi menyebutkan. "Didalam hadist tersebut terdapat isyarat yang menunjukkan adanya dia dimensi dalam jiwa manusia, yaitu dimensi amarah(yang menyuruh kepada kejahatan) dan dimensi mutma'innah. Jika dimensi amarah lebih mendominasi seseorang, maka kecintaan pada keluarga dan anak lebih besar daripada kecintaan nya kepada Rasullulah.

 Dan jika dimensi mutma'innah lebih mendominasi seseorang, maka kecintaan kepada beliau lebih besar daripada kecintaan nya kepada keluarga dan anak-anak nya".

Ibnu Batthal mengungkapkan, "Cinta itu terdiri dari tiga macam, cinta dengan maksud untuk menghormati, misalnya cinta kepada orangtua. Kedua, cinta untuk mencurahkan kasih sayang, semisal cinta kepada anak. Dan ketiga, cinta untuk mewujudkan kebaikan misalnya cinta kepada umat manusia secara keseluruhan. Dan nabi Muhammad telah menyatukan ketiganya itu di dalam lafadz hadist tersebut. Dan orang yang bermaksud akan menyempurnakan iman, maka ia akan mengetahui bahwa hak nabi lebih di kedepannya daripada hak orang tua dan anak serta umat manusia secara keseluruhan. Karena, beliau telah menyelamatkan kita dari api neraka dan memberi petunjuk kepada kita dari kesesatan".

Oleh karena itu, hendaklah anda menegakkan sunnah Rasullulah serta menghiasi diri dengan adab beliau serta memperbanyak sholawat kepada beliau, berziarah ke masjid beliau untuk shalat di dalamnya, menjauhi orang orang yang bermaksiat, menyebarluaskan syari'atnya. 

Dan tidak diragukan lagi bahwa Nabi Muhammad tetap hidup di dalam kuburnya. Oleh karena itu, kita diharuskan mencintai beliau dan para ulama yang menjalankan syariatnya dan mengikuti sunahnya. 

Selain itu hendaklah kita menghindari majelis orang orang shalih serta menjadi sahabat orang orang yang baik lagi bertakwa. Serta mencintai Syaikh yang menyeru orang orang untuk kembali ke jalan Alloh. 

Dari hadist Abdullah bin Hisyam, bahwa Umar bin Khattab, beliau pernah berkata kepada nabi, "Engkau, ya Rasullulah, lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri". 

Maka beliau bersabda, " Tidak, demi zat yang jiwaku berada di tangan berada yang jiwaku berada ditangannya, sehingga aku lebih engkau cinta daripada dirimu sendiri". Kemudian Umar bin Khattab berkata kepada beliau, "Demi Alloh, sesungguhnya sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri", Beliau bersabda, "Sekarang, Hai Umar".

Ibnu Hajar berkata, "Cinta ini bukan didasarkan pada penghormatan semata, karena sudah pasti kehormatan tersebut sudah ada pada diri Umar sebelum nya".

Sedangkan Al Khaththabi berkata, "Yang dimaksud dengan cinta ini adalah cinta yang bersifat pilihan dan bukan cinta yang bersifat naluri".

Al Qurtubi berkata, "setiap orang beriman kepada Nabi secara benar, maka tidak akan lepas dari perasaan cinta seperti itu. Dalam hal ini, mereka mempunyai tingkatan yang berbeda. Ada di antara mereka yang mengambil bagian minimal, sebagaimana orang yang tenggelam dalam hawa nafsu yang tertutup dalam kelalaian. Namun jika di antara mereka yang nama Nabi, maka ia akan rindu untuk melihat beliau, dimana ia akan lebih mengutamakan beliau atas keluarga, anak orang tua, dan harta bendanya, serta mengerahkan seluruh jiwanya untuk kepentingan beliau, mengutamakan berziarah ke makam beliau dan mengunjungi peninggalan peninggalan lainnya, serta menanamkan kecintaan kepada beliau di dalam hatinya.