Penjelasan Hadits
Maksudnya, memberikan makan adalah salah satu akhlak yang mulia, merupakan bukti kedermawanan seseorang. Mengucapkan salam kepada orang yang tidak dikenal, orang orang dari kalangan kaum muslimin, dan tidak hanya dikhususkan untuk orang tertentu saja, karena sombong kepada orang lain.
Hadits tersebut berarti bahwa Nabi hendak memberikan jawaban yang memberikan manfaat dan menghindarkan keburukan. Dan beliau menunjukkan berbagai amal perbuatan jiwa yang beriman lagi mulia, sehingga dengan demikian itu seluruh kebaikannya tersebar menjangkau seluruh umat manusia.
Di mana jiwa tersebut banyak memberikan makan kepada tamu, kaum fakir miskin, sehingga ia menjadi tempat sekaligus sumber makanan bagi orang orang yang lapar dan tempat kembalinya orang orang yang membutuhkan,
“Burung itu akan hinggap di tempat dimana biji-bijian itu tersebar dan tinggal di rumah-rumah orang dermawan."
Hikmah kedua, memberikan ucapan selamat seperti yang diajarkan syariat, yang secara lengkap berbunyi sebagai berikut:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam ini diucapkan kepada setiap orang dan tidak perlu dikhususkan kepada seseorang saja. Al Karmani berkata, “Sebagaimana yang sebagian orang melakukannya dengan disertai unsur kesombongan dan penghinaan terhadap orang lain. Dan pengucapan salam itu tidak boleh juga dibuat-buat, dan harus dilakukan dalam rangka memelihara hubungan persaudaraan Islam dan dalam rangka mengagungkan syiar syariat. Jika salam itu disampaikan tulus ikhlas karena Allah, maka salam itu tidak boleh dikhususkan kepada seseorang saja. Dan permusuhan tidak boleh menjadi penghalang salam.
Di dalam hadits tersebut terdapat anjuran untuk bersikap dermawan dan menanamkan akhlak mulia serta merendahkan diri kepada kaum muslimin. Selain itu terdapat anjuran untuk menyatukan hati dan kalimat serta kecintaan mereka.
Dengan demikian, hadits tersebut di atas mencakup dua macam akhlak
mulia, baik yang bersifat matcrial yakni, memberi makan, maupun yang bersifat fisik, yakni memberi salam. Al-Baidhawi mengatakan, “Keeratan dan kasih sayang merupakan salah satu hal yang diwajibkan Islam sekaligus sebagai salah satu sistem agama yang syamil."
Al-Khaththabi berkata, “Jawaban yang diberikan Rasulullah menunjukkan sejumlah kriteria dan amal-amal Islam sampai pada hak-hak yang wajib dipenuhi antar sesama manusia. Dan pertanyaan itu diajukan dimaksudkan untuk mengetahui hak-hak yang wajib bagi mereka. Dan beliau menjadikan amal yang paling baik adalah memberi makan yang merupakan penguat badan, dan dengan kuatnya badan manusia dapat menunaikan hak dan kewajiban mereka. Sedangkan ucapan yang paling baik adalah penyebarluasan salam.
Ada sebuah keluarga yang sejak sepuluh tahun yang lalu banyak memberi makan kepada orang-orang, bahkan sampai seratus orang setiap harinya. Dan sejak itu kebaikan pun semakin bertambah dan berkembang dan Allah pun memberkati rezkinya. Hingga akhirnya keluarga tersebut benar-benar dihormati dan dicintai oleh masyarakat. Demikian itulah salah satu buah dari pemberian makan, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah.
Dan jika dihubungkan dengan hadits sebelumnya, maka anda akan mendapatkan bahwa pemberian makan itu dimaksudkan untuk menyalamatkan tangan sedangkan salam untuk menyelamatkan lidah. Allah telah berfirman,
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepada kalian hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kalian dan tidak pula ucapan terima kasih.” (Al-Insan: 8-9)
“Dan aib seseorang itu akan tampak oleh orang lain melalui kekikirannya,
dan semuanya itu akan ditutupi dari mereka oleh kedermawanannya."
Di antara sya'ir Abu Ishak Al-Mushili yang meninggal dunia pada tahun 235 H yang mengecam sekaligus mencela sifat kikir,
“la pemah menyuruh bersikap kikir, lalu kukatakan, berhentilah engkau,
tidak ada jalan untuk menuruti apa yang engkau perintahkan,
Aku melihat dermawan itu mempunyai banyak teman di tengah tengah manusia,
tetapi aku tidak melihat orang kikir mempunyai teman di alam semesta ini.
Sesungguhnya aku melihat kekirian itu menghinakan pelakunya,
sehingga aku menghormati diriku dan menjauhkan dari sebutan kikir,
Bagaimana aku akan takut miskin atau terhindar dari kekayaan,
sedang Amirul Mukminin melhatnya sebagai suatu yang bagus.”
Dengan demikian, Rasulullah mengajak orang-orang yang beriman untuk menghiasi diri dengan kedermawanan dan banyak berbuat kebaikan, melarang kekikiran dan pengabaian terhadap tamu dan orang-orang miskin.
“Dan kami akan menghormati tamu kami selama ia masih di tempat kami, dan kami limpahkan kemuliaan seperti yang ia inginkan.”