Hadist-hadist pilihan dari kitab Shahih Bukhari

Hadist Malu sebagian cabang iman


Penjelasan hadis

Yang dimaksud dengan bidh'un WA sittuuna adalah enam puluh empat sampai enam puluh sembilan. 

Al Karmani menyebutkan, " Meskipun iman itu mempunyai cabang yang sangat banyak, tetapi nilai nya kembali pada pokok yang satu, yaitu menyempurnakan jiwa dalam pengertian, yang dengan nya orang dapat memperbaiki kehidupan nya, serta mempersiapkan tempat kembali nya (kehidupan akhir at). Dan hal ini dengan cara meyakini kebenaran dan meluruskan amal perbuatan".

Pengertian senada juga di isyaratkan oleh Rasulullah dimana beliau berkata kepada Sufyan ats tsaqafi, ketika ia bertanya tentang satu ucapan yang sangat komprehensif, yaitu sabda Rasulullah, 

"Katakanlah, " Aku beriman kepada Alloh dan kemudian berjalan lurus lah".

Dan keyakinan bercabang sampai enam belas cabang, yaitu: mencari ilmu, ma'rifatullah, dan menyucikan nya dari berbagai aib dan kekurangan, iman dengan sifat sifat kemuliaan, misalnya kehidupan dan ilmu, selanjutnya mengakui keesaan Alloh dan selain darinya merupakan ciptaan nya. Sesuatu itu tidak akan wujud atau tiada melainkan melalui ketetapan dan takdir nya. Lalu beriman kepada Malaikat nya yang suci, membenarkan para rasul yang diperkuat dengan berbagai macam tanda tanda kekuasaannya. Berkeyakinan secara benar dan baik terhadap mereka. Mengakui penciptaan seluruh yang ada selain dirinya, dan meyakini bahwa semuanya itu akan musnah, percaya akan adanya kehidupan kedua setelah kehidupan di dunia ini dan dikembalikan semua arwah ke jasad masing-masing, mengakui akan adanya hari kiamat yang di dalamnya terdapat shirat, penghinaan, mizan (pertimbangan), dan seluruh seluruh berita bersumber dari Rasulullah secara mutawatir. Percaya akan adanya surga dan pahala yang ada di dalamnya, serta meyakini kebenaran ancaman berupa neraka dan siksaan yang terdapat di dalamnya. 

Sedang amal perbuatan terbagi lagi menjadi tiga bagian. 

Pertama, amal yang berkaitan dengan orang itu sendiri, yang ini pun terbagi lagu menjadi dua bagian. Yang salah satunya adalah amal yang berkaitan dengan hal hal batin yang nilainya adalah penyucian jiwa dari berbagai hal yang hina induknya mencapai sepuluh hal, yaitu makanan yang buruk, ucapan yang keji, cinta kedudukan, cinta harta, cinta dunia, dengki, iri hati, munafik, dan ta'ajub. Dan selanjutnya menghiasi diri dengan berbagai amal utama induknya, terdiri dari 13, yaitu taubat, takut, berharap, zuhud, malu, syukur, menepati janji, sabar, ikhlas, jujur, cinta, tawakal, ridha terhadap ketetapan takdir. Bagian yang kedua adalah yang berkaitan dengan hal hal yang lahir, yang disebut dengan ibadah, yang cabangnya terdiri tiga belas cabang, yaitu suci badan dari kotoran dan najis, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mengurus jenazah, puasa di bulan Ramadhan, i'tikaf, membaca al quran, menunaikan ibadah haji ke Baitullah, menyembelih kurban, menepati nadzar, mengagumkan iman, dan membayar kafarat(denda). 

Kedua amal perbuatan menyangkut dirinya dan anggota keluarga nya saja, yang amal ini mempunyai delapan cabang, yaitu menjauhkan diri dari zina, menikah, menunaikan kewajiban, berbakti kepada kedua orang tua, silaturahim, taat kepada pimpinan, berbuat baik kepada budak, dan terakhir memerdekakan nya. 

Ketiga, amal yang menyangkut umat manusia secara keseluruhan dan yang brakibat pada kebaikan mereka, yang cabangnya terdiri dari tujuh belas cabang, yaitu menyatukan kaum muslimin dalam tatanan kenegaraan, mengikuti al jama'ah, mentaati para pemimpin, membantu mereka berbuat kebaikan, menghidupkan dan menyebarluaskan syiar islam, menegakkan amar makruf nahi mungkar, memelihara agama dengan menolak kekufuran memerangi orang orang kafir harbi dan berdiri tegak di jalan Alloh. Menjaga diri dengan cara menghindari segala bentuk kejahatan dan keburukan, menegakkan hukumnya berupa qisash dan diyat menjaga harta benda orang lain, memberikan hak kepada pemilik nya, menghindari segala bentuk kezhaliman, memelihara keturunan, menjaga kehormatan orang lain dengan cara menegakkan hukum had zina dan qadzaf, memelihara akal pikiran dengan tidak mengonsumsi makanan atau minuman yang memabukkan, dan merusak akal dengan memberi ancaman dan hukuman, serta menghindarkan berbagai bentuk bahaya dari kaum muslimin, diantaranya adalah menyingkirkan bahaya dari jalan. 

Dan menurut syari'at, malu merupakan peragai yang melahirkan motivasi untuk menjauhkan seseorang dari berbuat buruk dan yang mencegah berbuat kelalaian kepada Alloh. Disebutkan rasa malu secara khusus disini, karena malu merupakan pilar bagi cabang cabang bagi iman lainnya. Karena, rasa malu itu dapat membangkitkan rasa takut dari kehinaan dunia dan akhirat, sehingga akan menumbuhkan keinginan untuk berbuat baik. 

Dan orang yang memperhatikan serta merenungkan sabda Rasullulah berikut ini niscaya ia akan menemukan makna rasa malu yang sebenarnya. 

"Malulah kalian dari Alloh dengan sebenar benarnya malu", maka para sahabat berkata, " Sesungguhnya kami sudah malu kepada Alloh, ya Rasulullah, dan alhamdulillah". 

Rasulullah bersabda, "Bukan itu, tetapi barangsiapa yang malu kepada Alloh dengan sebenar benarnya malu, maka hendaklah ia menjaga kepala serta apa yang diketahui nya, perut dan segala yang dikandungnya, dan hendaklah ia mengingat kematian dan cobaan, dan Barangsiapa yang menghendaki akhirat, maka ia akan meninggalkan perhiasan kehidupan dunia, Barangsiapa yang melakukan hal tersebut, berarti ia telah malu kepada Alloh dengan sebenar benarnya".