Penjelasan Hadits
Nabi SAW telah memberikan kepada anda perumpamaan orang yang mendapatkan petunjuk dan mempelajari ilmu pengetahuan serta dapat memanfaatkannya. Orang seperti ini akan menjadi sumber kebaikan dan berkah, perjalanannya sangat bersih, dan keberadaannya pun menjadi rahmat dan nikmat.
Kedua beliau memberikan perumpamaan orang yang tidak menerima petunjuk, dimana orang ini diperumpamakan seperti batu keras yang tidak dapat mengambil manfaat dan memberi manfaat.
Ada yang berpendapat, Rasulullah memilih hujan sebagai perumpamaan, karena hujan merupakan suatu yang sangat dibutuhkan makhluk. Sebagaimana yang difirmankan Alloh.
“Dan Dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya, Dan Dia yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (Asy Syuura: 28)
Sebelum Rasulullah, umat manusia dalam keadaan diuji dengan kematian hati dan menghilangnya ilmu pengetahuan sehingga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka dari sisi-Nya. Diberikannya perumpamaan hujan dikarenakan adanya kemiripan antara hujan dengan ilmu. Karena, hujan dapat menghidupan negeri yang sudah mati, sedangkan ilmu dapat menghidupkan hati yang sudah mati.
Imam An Nawawi menyebutkan, perumpamaan ini berarti bahwa tanah bumi itu terdiri dari tiga jenis, demikian halnya dengan manusia. Jenis tanah pertama adalah yang dapat mengambil manfaat dari hujan yang diturunkan padanya sehingga tanah itu dapat hidup setelah sebelumnya dalam keadaan mati, sehingga di atasnya tumbuh rerumputan dan tumbuh tumbuhan lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh umat manusia dan juga binatang.
Sedangakan jenis pertama manusia adalah orang yang menerima petunjuk dan mencari ilmu, lalu ia bersungguh sungguh untuk menghafalkannya dan menghidupkan hatinya serta mengamalkannya serta mengajarkannya kepada orang lain, sehingga dapat mengambil manfaat dan sekaligus memberi manfaat.
Dan jenis tanah kedua adalah yang tidak mau mengambil manfaat untuk dirinya sendiri, tetapi ia bisa memberi manfaat kepada pihak lain, dimana tanah tersebut bisa menahan air sehingga air itu dapat diambil dan dimanfaatkan oleh manusia maupun binatang sebagai minuman atau kebutuhan lainnya.
Demikian juga dengan jenis kedua dari manusia, dimana manusia mempunyai kemampuan untuk menghafal tetapi mereka tidak mempunyai kecerdasan untuk memahami serta tidak pula mempunyai kedalaman ilmu yang dapat mereka manfaatkan, dan mereka ini juga tidak mempunyai upaya yang keras untuk mengamalkannya. Orang orang seperti ini akan berusaha menghafal sehingga datang kepada mereka para ulama untuk mengambil manfaat dari mereka.
Dan jenis tanah ketiga adalah tandus yang tidak dapat menumbuh kan tumbuh tumbuhan, dimana tanah ini tidak bisa memanfaatkan air dan bahkan tidak bisa menyerapnya untuk dapat dimanfaatkan oleh pihak yang lain.
Demikian juga jenis manusia yang ketiga, dimana mereka tidak mempunyai hati yang dapat menghafal dan juga pemahaman yang aktif. Oleh karena itu, jika mereka mendengar ilmu, maka mereka tidak dapat memanfaatkannya dan tidak pula menghafalnya untuk dimanfaatkan oleh pihak lain. Demikian yang dikemukakan oleh Al Karmani.
Allah berfirman:
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?” (Az-Zumar: ayat 22)
Dalam kitab Syarhu Al Mashabih, Al Madzhari membagi manusia berdasarkan penerimaan dan penolakan mereka terhadap ilmu:
a. Orang yang memahami dan memberi manfaat kepada orang lain,
b. Orang yang tidak mau mengarahkan kepalanya ke ilmu. Sebagaimana halnya dengan tanah yang dibagi menjadi dua bagian: yang dapat diambil manfaat darinya dan yang tidak. Maka manusia pun demikian, ada yang mau menerima dan ada juga yang tidak.